LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ASMA
OLEH :
YUS KOGOYA
NIM : 18640851
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS
ILMU KESEHATAN
UVIVERSITAS
KADIRI
TAHUN
2019/2020
A.
PENGERTIAN
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran napas yang
mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga apabila terangsang
oleh factor risiko tertentu, jalan napas menjadi tersumbat dan aliran udara
terhambat karena konstriksi bronkus, sumbatan mukus, dan meningkatnya proses
radang (Almazini, 2012).
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan
karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan
peradangan, penyempitan ini bersifat sementara. Asma dapat terjadi pada siapa
saja dan dapat timbul disegala usia, tetapi umumnya asma lebih sering terjadi
pada anak-anak usia di bawah 5 tahun dan orang dewasa pada usia sekitar 30
tahunan (Saheb, 2011).
Asma timbul pada orang-orang tertentu yang secara
agresif berespon terhadap mediator-mediator peradangan atau iritan alergi.
Faktor resiko adalah riwayat asma pada keluarga, yang mengisyaratkan adanya
kecenderungan genetik mengalami bronkospasme.
Orang dewasa dapat menderita asma tanpa riwayat asma
pada masa anak-anak. Tercetusnya asma
pada orang dewasa mungkin berkaitan dengan semakin parahnya alergi yang sudah
ada. Infeksi saluran napas atas yang berulang-ulang juga dapat mencetuskan asma
pada orang dewasa, demikian juga pajanan debu dan iritan lingkungan kerja.
- ETIOLOGI
Penyakit asma selalu dihubungkan dengan bronkospasme
yang reversibel sebagai faktor pencetusnya adalah:
a.
Faktor ekstrinsik
Reaksi antigen-antibodi: karena inhalasi alergen seperti: debu, serbuk,
bulu binatang, makanan
b.
Faktor intrinsik
ü
Infeksi :
v
Virus yang menyebabkan ialah para influenza
virus, respiratory syncytial virus (RSV)
v
Bakteri, misalnya Pertusis dan Streptokokus
v
Jamur, misalnya Aspergillus
ü
Cuaca :perubahan tekanan udara, suhu udara,
angin dan kelembaban dihubungkan dengan percepatan
ü
Iritan bahan kimia, minyak wangi, asap rokok,
polutan udara
ü
Emosional : takut, cemas dan tegang
ü
Aktifitas yang berlebihan, misalnya berlari
- TANDA DAN GEJALA
Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan
beratnya derajat hiperaktivitas bronkus. Obstruksi jalan nafas dapat reversibel
secara spontan maupun dengan pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain:
a.
Bising mengi (wheezing)
yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop
b.
Batuk produktif, sering pada malam hari
c.
Nafas atau dada seperti tertekan
d.
Dipsnea berat
e.
Retraksi dada
f.
Napas cuping hidung
g.
Pernapasan yang dangkal dan cepat
h.
Selama serangan asma, udara terperangkap karena spasme
dan mukus memperlambat ekspirasi. Hal ini menyebabkan waktu menghembuskan udara
menjadi lebih lama.
i.
Gejalanya bersifat paroksismal, yaitu membaik pada
siang hari dan memburuk pada malam hari.
- PATOFISIOLOGI
Seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk
membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini
menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma,
antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial
paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang
menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi
dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan
mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang
bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan
bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan edema
lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam
lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan
tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.
Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama
ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru
selama eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah
tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan
eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada
penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat,
tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas
residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama
serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini
bisa menyebabkan barrel chest.
PENYIMPANGAN KDM
Faktor
intrinsik Faktor
ekstrinsik
↓ ↓
Infeksi
oleh kuman Alergen
↓
Menginfeksi
saluran nafas
Pengaktifan
sel mast sebagai respon imun (makrofag, eosinofil, limfosit)
↓
Pengaktifan
mediator kimiawi (serotonim, bradikinin, histamine)
![]()
Edema
bronkus Sekresi mukus meningkat Bronkospasme inflamasi
Hiperesponsive
jalan nafas
↓
![]()
Hipersekresi
mukus dalam Penyempitan jalan
nafas Mukosa saluran
rongga
jalan nafas ↓ nafas
menebal
↓ Kompensasi
tubuh untuk ↓
Peningkatan
produksi mendapatkan suplai O2
yang Penyempitan lumen
sputum cukup ke jaringan
menurun ↓
↓ ↓ Batuk
bersputum
Sesak nafas Kontraksi otot-otot
pernafasan ↓
dan
batuk sputum ↓ pemasukan
O2
↓ Metabolisme tubuh
meningkat tidak adekuat
Bersihan jalan ↓ ↓
tidak
efektif Pengeluaran
energi berlebihan Jalan nafas
tidak efektif
↓ ↓
Serangan Cadangan energi
kurang pola
nafas
paroksimal ↓ nafas
tidak efektif
↓ Metabolisme ke
jaringan terhambat
Merangsang ↓
sistem
saraf Kelemahan dan
kelelahan otot
simpatis ↓
↓ Intoleransi
aktivitas
Mengaktifkan
RAS
dalam
mengaktifkan Dispnea, wheezing,
batuk, sputum Perubahan status
kerja
organ tubuh ↓ kesehatan
klien
↓ Merangsang
vomiting center ↓
Rapid
Eye Movement ↓ Proses
hospitalisasi
(REM)
menurun Mual/muntah ↓
↓ ↓ Kurangnya
informasi dan
Susah
tidur Anoreksia pengetahuan klien
dan
↓ ↓ keluarga
tentang
Perubahan pola Asupan makanan berkurang penyakitnya
Istirahat
tidur ↓ ↓
Gangguan
nutrisi kurang Stressor
psikologis bagi
dari
kebutuhan klien
dan keluarga
↓
Ansietas
- KOMPLIKASI
a.
Pneumomediastinum
b.
Emfisema subkutis
c.
Aspergilosis
d.
Bronkopulmonal alergik
e.
Gagal nafas
f.
Bronkhitis kronik, bronkhiolus
g.
Ateletaksis : lobari segmental karena obstruksi
bronchus oleh lender
h.
Pneumo thoraks
Kerja pernapasan meningkat, kebutuhan O2
meningkat. Orang asma tidak sanggup memenuhi kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan
untuk bernapas melawan spasme bronkhiolus, pembengkakan bronkhiolus, dan mukus
yang kental. Situasi ini dapat menimbulkan pneumothoraks akibat besarnya
tekanan untuk melakukan ventilasi
i.
Kematian
- PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
v
Uji prick tes
v
Uji fungsi paru
v
Tes tantangan metakolin atau histamine
v
Analisa gas darah: PaCO2 > 40 mmHg
v
PaO2 > 70 mmHg
v
Pemeriksaan laboratorium.
a. Pemeriksaan
sputum. Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:
ü Kristal-kristal
charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.
ü Spiral
curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
ü Creole
yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
ü
Netrofil dan eosinofil yang terdapat pada
sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang
terdapat mucus plug.
b.
Pemeriksaan darah.
ü Analisa
gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia,
hiperkapnia, atau asidosis.
ü Kadang
pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
ü Hiponatremia
dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan
terdapatnya suatu infeksi.
ü Pada
pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan
dan menurun pada waktu bebas dari serangan.
v Pemeriksaan
Radiologi
Gambaran radiologi pada
asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi
pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis,
serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka
kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
a. Bila
disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
b. Bila
terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin
bertambah.
c. Bila
terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru.
d. Dapat
pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
e. Bila
terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat
dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
v Pemeriksaan
tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang
dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
v Elektrokardiografi
Gambaran
elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian,
dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu :
a. Perubahan
aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise
rotation.
b. Terdapatnya
tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right bundle branch
block).
c. Tanda-tanda
hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan VES atau terjadinya
depresi segmen ST negative.
v Scanning
Paru Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi
udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.
v Spirometri
Untuk
menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang paling cepat dan
sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator.
Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator
aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC
sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol
bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk
menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek
pengobatan. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya
menunjukkan obstruksi.
- PENATALAKSANAAN
v Pengobatan
farmakologik :
a. Bronkodilator
: obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan :
1) Simtomatik/
andrenergik (Adrenalin dan efedrin). Nama obat :
ü Orsiprenalin
(Alupent)
ü Fenoterol
(berotec)
ü Terbutalin
(bricasma)
Obat-obat
golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup,suntikan dan
semprotan. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Ada juga yang
berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler)
atau cairan broncodilator (Alupent, Berotec, brivasma serts Ventolin) yang oleh
alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk
selanjutnya dihirup.
2) Santin
(teofilin) Nama obat :
ü Aminofilin
(Amicam supp)
ü Aminofilin
(Euphilin Retard)
ü Teofilin
(Amilex)
Efek
dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya
berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat.
Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan
asma akut, dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena
sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah
makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya
berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria
yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini digunakan jika
penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau
lambungnya kering).
b. Kromalin
Kromalin
bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Manfaatnya
adalah untuk penderita asma alergi terutama anak-anak. Kromalin biasanya
diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain, dan efeknya baru terlihat
setelah pemakaian satu bulan.
c. Ketolifen
Mempunyai
efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis
dua kali 1mg / hari. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral.
v Pengobatan
non farmakologik:
a. Memberikan
penyuluhan.
b. Menghindari
faktor pencetus.
c. Pemberian
cairan.
d. Fisiotherapy.
e. Beri
O2 bila perlu.
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
- PENGKAJIAN
v
Aktivitas/istirahat
Gejala :
letih, lemah, tidak mampu melakukan aktivitas, susah tidur,
dispnea.
Tanda : keletihan,
gelisah, insomnia, kelemahan/kehilangan massa otot
v
Integritas ego
Gejala : perubahan
pola hidup
Tanda : ansietas,
ketakutan, peka rangsang
v
Makanan/cairan
Gejala : tidak
selera makan, berat badan menurun
v
Hygiene
Gejala : penurunan
kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan
melakukan aktivitas
sehari-hari.
v
Pernafasan
Gejala : sesak
nafas, dada terasa tertekan, lapar udara (kronis), batuk
Tanda : ekspirasi
yang memanjang, penggunaan otot aksesori pernafasan,
bunyi nafas mengi, gelisah
v
Keamanan
Gejala : riwayat
reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan
Tanda : kemerahan,
berkeringat
v
Interaksi sosial
Gejala : ketergantungan
hubungan, kurang sistem pendukung
Tanda : keterbatasan
mobilitas fisik
- DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1.
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan
jalan nafas
2.
Bersihan jalan nafas inefektif berhubungan dengan
peningkatan produksi mukus
3.
Perubahan pola istirahat tidur berhubungan dengan sesak
nafas dan batuk
4.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dan
kelelahan otot
5.
Nutrisi kurang kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
anoreksia
6.
Ansietas berhubungan dengan kurang informasi dan
pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya
- INTERVENSI
KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
penyempitan jalan nafas
ü
Auskultasi bunyi nafas
Rasional : derajat spasme
bronkus dengan obstruksi jalan nafas dapat/tak dimanifestasikan adanya bunyi
nafas adventisius, misal: tidak ada bunyi nafas mengi.
ü
Kaji frekuensi nafas
Rasional : takipnea biasanya
ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama
adanya stress/ proses infeksi akut
ü
Berikan pada klien posisi yang nyaman
Rasional : peninggian kepala
tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.
ü
Pertahankan polusi udara minimum, misal: debu,
asap dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu.
Rasional: merupakan faktor
pencetus alergi, pernafasan memperberat sesak.
ü
Dorong atau bantu latihan nafas abdomen atau
bibir
Rasional: memberi pasien
beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan
udara.
ü
Penatalaksanaan pemberian O2
Rasional:
dapat memperbaiki/mencegah terjadinya hipoksia
ü
Penatalaksanaan pemberian obat sesuai indikasi
a.
Bronchodilator
Rasional: merilekskan otot
pernafasan dan menurunkan kongesti lokal. Menurunkan spasme jalan nafas, mengi
dan produksi mukosa.
b.
Metilxantin
Rasional: menurunkan edema
mukosa dan spasme otot polos dengan peningkatan langsung siklus AMP. Dapat juga
menurunkan kelemahan otot/kegagalan pernafasan dengan meningkatkan kontraktilitas
diafragma.
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan peningkatan produksi mukus
ü
Instruksikan klien pada metode yang tepat dalam
mengontrol batuk:
a.
Nafas dalam dan perlahan sebelum duduk setegak mungkin
b.
Gunakan nafas diafragmatik
c.
Tahan nafas selama 3 – 5 detik kemudian dengan perlahan
hembuskan sebanyak mungkin melalui mulut (sangkar iga bawah dan abdomen harus
turun)
d.
Ambil nafas kedua, tahan dan batuk dari dada (bukan
dari belakang mulut atau tenggorok) dengan menggunakan nafas pendek
e.
Demonstrasikan pernafasan pursed-up
Rasional : batuk
yang tidak terkontrol melelahkan dan inefektif, dapat menimbulkan frustasi
ü
Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan
viskositas sekret
ü
Pertahankan hidrasi adekuat: meningkatkan
masukan cairan 2-4 liter/hari. Bila tidak dikontraindikasikan oleh penurunan
cardiac output viskositas sekresi.
ü
Pertahankan kelembaban adekuat udara inspirasi
ü
Hindari lingkungan yang mengandung stimulasi
Rasional: sekresi kental sulit
untuk dikeluarkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus yang dapat menimbulkan
atelektasis.
ü
Auskultasi paru-paru sebelum dan sesudah
tindakan
Rasional: pengkajian ini
membantu mengevaluasi keberhasilan tindakan
ü
Dorong dan berikan perawatan mulut
Rasional: hygiene mulut yang
baik meningkatkan rasa sehat dan mencegah bau mulut.
ü
Penatalaksanaan pemberian obat sesuai indikasi
ü
Expectorant
Rasional: mengencerkan sputum
sehingga mudah dikeluarkan
3. Perubahan pola istirahat tidur berhubungan
dengan sesak nafas dan batuk
ü
Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan
yang terjadi Rasional: mengkaji
perlunya dan mengidentifikas intervensiyang tepat
ü
Instruksikan tindakan relaksasi
Rasional: membantu menginduksi
tidur
ü
Hindari mengganggu bila mungkin, misal:
membangunkan untuk obat atau terapi.
Rasional : tidur tanpa gangguan
lebih menimbulkan rasa segar dan pasien mungkin tidak mampu kembali tidur bila
terbangun
ü
Penatalaksanaan pemberian sedatif sesuai
indikasi
Rasional : Mungkin diberikan
untuk membantu pasien tidur/istirahat selama periode transisi dari rumah ke
lingkungan baru. Hindari penggunaan kebiasaan, karena obat ini menurunkan waktu
tidur REM.
4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan anoreksia
ü
Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini,
catat derajat kesulitan makan, dan evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
Rasional : Pasien distress
pernafasan akut sering anoreksia karena dispnea, produksi sputum dan obat.
Selain itu, banyak pasien dengan asma mempunyai kebiasaan makan buruk, meskipun
kegagalan pernafasan membuat status hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan
kalori.
ü
Auskultasi bunyi usus
Rasional : penurunan/hipoaktif
bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster dan konstipasi (komplikasi
umum) yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan, pilihan makanan buruk,
penurunan aktivitas.
ü
Berikan perawatan oral sering, buang sekret,
berikan wadah khusus untuk sekali pakai dan tissue.
Rasional: rasa tak enak, bau
dan penampilan adalah pencegah utama terhadap nafsu makan dan membuat mual dan
muntah dengan peningkatan kesulitan nafas.
ü
Dorong periode istirahat selama 1 jam sebelum
dan sesudah makan. Berikan porsi kecil tapi sering
Rasional: membantu menurunkan
kelemahan selama waktu makan dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan
masukan kalori total.
ü
Timbang berat badan sesuai indikasi jika
memungkinkan
Rasional: berguna untuk
menentukan kebutuhan kalori. Penurunan berat badan dapat berlanjut meskipun
masukan adekuat sesuai teratasinya edema.
ü
Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai
indikasi
Rasional: menurunkan dispnea
dan meningkatkan energi untuk makan meningkatkan masukan.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan dan kelelahan otot
ü
Atur posisi yang nyaman bagi klien
Rasional: meningkatkan
istirahat dan ketenangan, menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan.
ü
Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas, catat
laporan dispnea, peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda-tanda
vital.
Rasional: menetapkan
kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi
ü
Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung
selama waktu fase akut sesuai indikasi. Dorong penggunaan manajemen stres dan
pengalihan yang tepat.
Rasional: menurunkan stres dan
rangsang berlebihan, meningkatkan istirahat
ü
Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana
pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat
Rasional: pembatasan aktivitas
ditentukan dengan respon individu pasien terhadap aktivitas dan perbaikan
kegagalan pernafasan
ü
Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan
Rasional: meminimalkan
kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
6. Ansietas berhubungan dengan kurang
informasi dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya
ü
Kaji perasaan klien dan keluarga, beri sikap
empati dan dengarkan keluhan klien
Rasional: mengurangi kecemasan
klien dan keluarga sehingga dapat bekerjasama dalam proses perawatan
ü
Berikan informasi/penjelasan pada klien dan
keluarga mengenal kondisi, rencana perawatan dan prognosis pasien secara akurat
dan memperingatkan kondisi dan situasi
Rasional: pemberian informasi
yang jelas sehingga menghindari kesalahan persepsi.
ü
Kaji tingkat kecemasan klien
Rasional: memungkinkan untuk
menyampaikan bahwa yang didasarkan adalah kebutuhan dari individu dan
kelancaran proses perawatan.
ü
Diskusikan tentang tindakan keperawatan dan
medis serta penggunaan obat-obat yang diberi.
Rasional: penting untuk
perkembangan pemulihan atau pencegahan terhadap komplikasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Pearce C. Evalin. Anatomi Fisiologi Untuk Paramedis. PT. Gramedia. Jakarta. 1981
Masjoer Arif. dkk. Kapita Salekta Kedokteran. Jakarta. Media Aesculapius. 2001
Corwin J. Elizabeth buku saku Patofisiologi. 2001, Jakarta. EGC.
Askep asma bronkhiale, http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/23/askep-asma-bronkhiale/
Askep asma http://www.docstoc.com/docs/79972573/ASKEP-ASMA
Klien asma http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-pada klien-asma/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar